Amanat Rektor UNISMA pada Peringatan Hari Santri Nasional 2019

Sekitar pukul 05.30 WIB tadi halaman kampus UNISMA dipadati oleh orang-orang yang mengenakan sarung, baju putih, dan kopiah hitam bagi yang laki-laki, sedangkan yang perempuan mengenakan busana muslimah. Mereka adalah para pimpinan, dosen, karyawan, dan mahasiswa UNISMA yang siap-siap untuk mengikuti upacara memperingati Hari Santri Nasional 2019 yang diselenggarakan oleh UNISMA. Pemandangan ini tampak paling tidak setiap tahun di mana para pimpinan, dosen, mahasiswa dan karyawan mengenakan pakaian ala santri. Bukan hanya pada saat upacara peringatan, melainkan juga para dosan dan mahasiswa di dalam perkulaiahan dalam keadaan berbusana ala santri (bersarung dan berkopiah).

Berikut adalah isi amanah Rektor UNISMA, Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si.

Hari ini tahun keempat keluarga besar Univesitas Islam Malang dan seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Santri. Setelah sebelumnya peran kaum santri diakui negara melalui Kepres No. 22 Tahun 2015 tentang Penetapan Tanggal 22 Oktober sebagai HARI SANTRI. Penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada tercetusnya “Resolusi Jihad” yang berisi fatwa kewajiban berjihad dengan gelora hubbul wathan minal iman demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Tahun ini kaum santri kembali mendapat penguatan negara melalui pengesahaan UU Pesantren. Diharapkan melalui UU ini, santri dan pendidikan pesantren yang ada di UNISMA, bahkan UNISMA dengan basis pesantren, haruslah dapat meningkatkan peran dan kontribusinya dalam pembangunan bangsa dan negara melalui fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan Undang-Undang ini negara hadir untuk memberikan rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi kepada pesantren dengan tetap menjaga kekhasan dan kemandiriannya. Dengan Undang-Undang ini pula tamatan pesantren memiliki hak yang sama dengan tamatan lembaga lainnya.

Di tengah Revolusi Industry Teknologi Informasi (4.0), santri harus kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap nilai-nilai baru yang baik, sekaligus teguh menjaga tradisi dan nilai-nilai lama yang baik. Santri tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai Muslim yang berakhlakul karimah, yang hormat kepada kyai, dan menjunjung tinggi ajaran para leluhur, terutama metode dakwah dan pemberdayaan yang dilakukan Walisongo. Santri disatukan dalam asasiyat (dasar dan prinsip perjuangan), khalfiyat (background sejarah), dan ghayat (tujuan).

Dasar perjuangan santri adalah memperjuangkan tegak lestarinya ajaran Islam Ahlussunnah Waljama’ah, yaitu Islam bermadzhab. Ditengah kampanye Islam anti madzhab yang  menggemakan jargon  kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis,  santri dituntut  untuk  cerdas  mengembangkan  argumen  Islam  moderat  yangrelevan, kontekstual, membumi, dan kompatibel dengan semangat membangun simbiosis Islam dan kebangsaan, inilah yang dicontohkan Walisongo.

Islam tidak diajarkan dalam bungkusnya, tetapi isinya. Bungkusnya dipertahankan dalam wadah budaya Nusantara, tetapi isinya diganti dengan ajaran Islam. Budaya dijadikan sebagai infrastruktur agama, sejauh tidak bertentangan dengan syariat. Termasuk dalam hal ini adalah bentuk negara. Bentuk negara apa pun, asal syari’at Islam dapat dijalankan masyarakat, sah dan mengikat, baik berbentuk republik, mamlakah, maupun emirat.

Karena NKRI berdasarkan Pancasila telah disepakati oleh para pendiri bangsa, seluruh warga negara, termasuk santri, wajib patuh menjaga dan mempertahankan konsensus kebangsaan.

Jati diri santri,  adalah moralitas dan akhlak pesantren dengan kiai sebagai simbol kepemimpinan spiritual (qiyadah rohaniyah). Karena itu, meskipun santri telah melanglang buana, menempuh pendidikan hingga ke mancanegara, dia tidak boleh melupakan jati dirinya sebagai santri yang hormat dan patuh pada kiai. Tidak ada kosakata bekas kiai, bekas guru/dosen  atau bekas santri dalam khazanah pesantren. Santri melekat sebagai stempel seumur hidup, membingkai moral dan akhlak pesantren. Di hadapan kiai, santri harus menanggalkan gelar dan titelnya, pangkat dan jabatannya, siap berbaris dibelakang kepemimpinan kiai.

Beberapa figur tokoh nasional yang santri diantaranya adalah Pangeran Diponegoro, tidak hanya dikenal sebagai panglima perang melawan Belanda, Pangeran Diponegoro yang mempunyai nama asli Abdul Hamid,  adalah santri tulen yang mondok pertama kali kepada K. H. Hasan Besari Tegalsari, Jetis, Ponorogo, yakni belajar ngaji kitab Fathul Qorib sampai khatam, selain itu beliau juga ngaji kitab kuning pada KH. Taftazani Kertosono, ngaji Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bantul-Jogjakarta, dan terahir ngaji hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang. Tidak hanya Pangeran Diponegoro, ada juga figur tokoh nasional yang santri, yakni Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara alias Suwardi Suryaningrat, beliau belajar ngaji Al-Qur’an kepada Romo K. Sulaiman Zainuddin Kalasan-Prambanan sampai khatam. Dan juga satu lagi figur penting, penggubah lagu “Syukur”, yakni Habib Husein Muthahar, Semarang. Jadi, yang mencipta lagu “Syukur” yang kita semua hafal dan nyanyikan adalah seorang Sayyid, cucu baginda Nabi Muhammad SAW.

Tujuan pengabdian santri adalah meninggikan kalimat Allah yang paling luhur (Ii i’lai kalimatillah allati’ hiya al-ulya’) yaitu tegaknya agama Islam rahmatan Iil alamin. Islam yang harus diperjuangkan bukan sekadar akidah dan syariah, tetapi ilmu dan peradaban (tsaqafah wal-hadlarah), budaya dan kemajuan (tamaddun) dan juga kemanusiaan (wal insaniyah). Islam dalam ethos santri adalah keterbukaan, kecendekiaan, toleransi, kejujuran, dan kesederhanaan. Semangat inilah  yang diwariskan oleh salafus shalih, yang telah mencontohkan cara  bela agama yang benar.

Islam pernah mencapai zaman keemasan pada abad ke-7 sampai 13 M dengan ilmu dan peradaban. Para filosof dan ulama seperti Jabir ibn Hayyan (721-815 M), Al-Fazari (w. 796/806 M), Al-Farghani (w. 870 M), Al-Kindi (801-873 M), Al-Khawarizmi (780-850 M), Al-Farabi (874-950 M), Al-Mas’udi (896-956 M), lbn Miskawaih (932-1030 M), lbn Sina (980-1037 M), Al-Razi (1149-1209 M), Al-Haitsami (w. 1039 M), Al-Ghazali (1058- 1111 M), dan lbn Rushd (1126-1198 M) telah berjasa kepada dunia, dengan sumbangan mereka yang tiada tara bagi ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Manfaatnya lintas zaman, melampaui sekat agama dan bangsa. Dunia berterima kasih kepada Islam karena ilmu pengetahuan.  Itulah cara bela Islam yang benar.

Islam tidak boleh dibela dengan pekik takbir di jalan-jalan, dengan kerumunan massa yang mengibar-ngibarkan bendera, dengan caci maki dan sumpah serapah. Islam harus dibela dengan ilmu pengetahuan dan peradaban dengan cara-cara yang harmonis untuk menjuju perdamaian. ltulah cara bela Islam yang benar. Benarlah peringatan Imam Ghazali dalam Kitab Tahafutul Falasifah.

“Kehancuran agama dari para pembela yang tidak tahu caranya membela itu lebih besar, daripada kehancuran agama dari para pencela.”          

Santri mewarisi legacy yang ditinggalkan oleh para ulama di abad keemasan Islam. Karena itu, kebangkitan Islam akan sangat ditentukan oleh kiprah dan peranan kaum santri. Untuk membangun kehidupan harmoni, toleran, moderat, saling menghormati, dan membantu menciptakan perdamaian.

Untuk itu, setidaknya ada sembilan alasan dan dasar, mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian.

  • Pertama; Kesadaran harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad 1945, hingga melawan pemberontakan PKI, tidak lepas dari peran kalangan pesantren. Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).
  • Kedua; Metode mengaji dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu langsung dari kiai, di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab. Tatkala muncul masalah hukum, para santri menggunakan metode bahsulmasail untuk mencari kekuatan hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. Melalui ini para santri dididik untuk belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandar pada sumber hukum yang otentik.
  • Ketiga; Para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian). Ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial.
  • Keempat; Pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri. Lantaran jauh dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan gotong-royong sesama para pejuang ilmu.
  • Kelima; Gerakan komunitas seperti kesenian dan tumbuh subur di pesantren. Seni dan sastra berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan keindahan, harmoni dan kedamaian.
  • Keenam adalah Lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru.
  • Ketujuh; Merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.
  • Kedelapan; Prinsip Maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya, orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan pesantren, baik itu soal moral maupun intelektual.
  • Kesembilan; Penanaman spiritual. Tidak hanya soal hukum Islam (fikih) yang didalami, banyak pesantren juga melatih para santrinya untuk tazkiyatunnafs, yaitu proses pembersihan hati. Ini biasanya dilakukan melalui amalan zikir dan puasa, sehingga akan melahirkan pikiran dan tindakan yang bersih dan benar. Makanya santri jauh dari pemberitaan tentang intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya ucapkan “Selamat Hari Santri 2019, Santri Ungul, Indonesia Makmur dan Santri Indonesia, untuk Perdamaian Dunia”.

 

Malang, 22 Oktober 2019

Rektor Unisma

TTD

 

Prof. Dr. H. Maskuri, M.Si

 

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )