Gempa dan Pelemahan Ekonomi Global Perlambat Penurunan Kemiskinan di KSB

Upaya penerunan angka kemiskinan yang dilakukan pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mengendor. Berdasarkan rilis data makro Badan Pusat Statistik (BPS) hasil survei tahun 2018, angka kemiskinan yang berhasil ditekan Pemda KSB hanya sebesar 0,32 persen. Persentase tersebut terhitung kecil dibanding capaian tahun sebelumnya di mana Pemda KSB berhasil menyentuh angka 1,79 persen.

Kepala BPS KSB Ir. H. Muhammad Ahyar, SP menyatakan, setidaknya ada dua faktor nyata yang menyebabkan pelambatan penurunan persentase angka kemiskinan di daerah sepanjang tahun 2018. Pertama karena bencana gempa dan kedua faktor pelemahan ekonomi secara global yang terjadi sepanjang tahun lalu.

“Tentu ada faktor lainnya juga ya. Tapi kami kira yang dua itu juga turut menyumbang,” terangnya saat acara ekspose data makro BPS, Rabu, 18 Desember 2019.

Akibat melambatnya penurunan angka kemiskinan itu, persentase jumlah orang miskin di KSB saat ini sebanyak 13,85 persen. Menurut Ahyar, meski terjadi penurunan, upaya Pemda KSB menekan angka kemiskinannya masih terhitung baik. Sebab selain turut dipengaruhi faktor eksternal, dibanding kabupaten/kota lainnya bahkan NTB angkanya masih bagus. Di mana KSB berada diurutan kedua di bawah Kabupaten Lombok Tmur (Lotim) dengan penurunan kemiskinan 0,4 persen.

“Yang bagus lagi, KSB itu masih di atas provinsi dan Sumbawa penurunan kemiskinannya,” paparnya.

Sementara itu menanggapi melemahnya angka penurunan kemiskinan di daerah itu, Sekretaris Bappeda Litbang KSB, Mars Anugerainsyah, S.Hut., M.Si tak menampiknya. Menurut dia, faktor-faktor penyebab yang dilansir BPS itu sebelumnya sudah diprediksi pihaknya sejak awal.

“Kita kan tidak bisa hindarkan faktor-faktor eksternal seperti itu. Tapi kita tidak tahu berapa penurunannya saat itu karena BPS belum rilis data,” terangnya.

Ia menyatakan, mengawali tahun 2018 lalu Pemda KSB lebih maksimal lagi menggenjot program-program penurunan angka kemiskinannya. Terutama program kartu Pariri dan Bariri, salah satu program andalan pemerintah KSB mengentaskan kemiskinan di masyarakat.

“Saat lihat penurunan angka kemiskinan 2017 sampai 1,79 persen kami yakin faktornya karena program kartu Pariri Bariri yang sudah pak bupati mulai luncurkan tahun 2016. Makanya kita maksimalkan lagi di 2018, tapi kan di tengah jalan terjadi gempa sehingga ekonomi masyarakat otomatis terganggu,” urainya seraya meyakini jika tidak ada faktor ekternal tersebut, capaian persentase penurunan kemiskinan tahun 2018 akan meningkat.

“Saya tidak berani pastikan bisa tembus sampai 2 persen sesuai target RPJMD kita. Tapi kalau di atas 1,79 persen saya yakin tercapai saat itu,” sambung mantan Kabid Ekonomi Bappeda Litbang KSB ini.

Selanjutnya Mars mengungkapkan, upaya penurunan angka kemiskinan sebenarnya akan lebih mudah jika jumlahnya masih besar. Sebab jika angkanya kecil, maka kemungkinan tingkat kedalaman kemiskinan masyarakat tersebut tinggi. Hal ini menyebabkan pemerintah memerlukan treatmen atau perlakuan dan strategi baru menghadapinya. “13,85 persen itu jumlah orangnya sekitar 3.000 jiwa. Itu bisa jadi masuk kategori kerak kemiskinan (sangat miskin) sehingga perlu strategi penanganan ekstra. Jadi itu juga berpengaruh,” tutupnya. (bug)

SUMBER

Gempa dan Pelemahan Ekonomi Global Perlambat Penurunan Kemiskinan di KSB

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )