IKA-UINSA GELAR DISKUSI ONLINE TANGGAPI KEBIJAKAN NEW NORMAL PANDEMI COVID-19

“Sebagai pimpinan saya merasa senang dan mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan IKA-UINSA. Hal ini mengindikasikan peran IKA-UINSA dalam mengedukasi masyarakat terkait kebijakan New Normal,”

Hal itu disampaikan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, menyusul diadakannya diskusi online bertopik “New Normal: Berdampingan dengan Corona” yang digelar Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni-UIN Sunan Ampel (IKA-UINSA) Surabaya, pada Jumat, 22 Mei 2020.

Rektor yang bergabung dalam diskusi tersebut selaku Keynote Speaker memberikan apresiasi. Kegiatan tersebut menurut Rektor, menjadi ajang silaturahim bagi para alumni yang sejak lama terkungkung pandemi Covid-19. Rektor pun berharap, agar pesan-pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dapat dipahami para peserta webinar dan diteruskan kepada masyarakat luas.

“Saya juga berharap agar ada kegiatan berikutnya dengan topik yang bervariasi sesuai kebutuhan. IKA-UINSA harus lebih aktif mengedukasi masyarakat dan menjalankan program-program amal serta pendampingan agar masyarakat menjadi lebih well-informed tentang IKA-UINSA dan juga UINSA,” pesan Prof. Masdar.

Selain itu, bergabung sebagai narasumber diskusi, dua alumni UINSA, yakni Bupati Lumajang Thoriqul Haq dan Ketua ICMI Jatim Ismail Nachu. Dalam diskusi yang digelar melalui media Zoom Meeting tersebut, forum mengemukakan bahwa, Pemerintah dan warga masyarakat sama-sama mengalami kegagapan dalam menghadapi pandemi covid-19. Mengingat, permasalahan yang muncul terus berkembang dan berdampak ke sektor lain. Sehingga, kebijakan yang dikeluarkan untuk menangani permasalahan ini sering kontradiktif di masyarakat. Warga masyarakat juga ikut bingung dan tergagap-gagap dalam memahami kebijakan pemerintah maupun permasalahan baru yang terus bermunculan.

Menurut Bupati Lumajang, di satu sisi pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), namun ada kebijakan lain yang memperbolehkan transportasi umum beroperasi. “Ini kan bisa kontraproduktif,” ujar alumnus Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UINSA (IAIN SA) tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan, Bupati Lumajang dalam diskusi, terkait dengan bantuan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat terdampak covid-19. Ada janda yang sebelum pandemi covid-19 sudah miskin, kemudian ada pelaku usaha katering yang usahanya mandek sudah dua bulan lebih karena tidak ada pesanan. Padahal, ia harus menyelesaikan kewajibannya membayar pekerja dan kredit di bank untuk modal usahanya.

“Mana yang harus dibantu lebih dulu? Ini dilema. Belum lagi permasalahan yang lain, seperti perlu mendahulukan penyelesaian dari sisi kesehatan atau sosial ekonominya. Akibatnya, banyak masyarakat yang tidak percaya dengan kebijakan pemerintah,” tukas Bupati Lumajang.

Sementara itu, Ismail Nachu menambahkan, kegagapan tidak hanya dialami pemerintah tapi juga seluruh komponen masyarakat. Karena itu, agar tidak semakin gagap harusnya saling mendukung dan membantu menyelesaikan persoalan, bukan saling menyalahkan. “Sebab, akan menjadi bahaya bila sampai menimbulkan distrust (ketidakpercayaan) masyarakat terhadap pemerintah,” papar Ismail yang juga dikenal sebagai pengusaha properti.

Pengusaha yang juga lulusan Fakultas Adab dan Humaniora UINSA (IAIN SA) tersebut mengajak semua komponen masyarakat untuk menggunakan akal sehat dalam menghadapi pandemi covid-19. Diantaranya dengan mengedepankan berpikir hikmah. Yaitu, mengajak untuk melakukan kebaikan bersama. “Kita harus sadarkan rakyat supaya tidak banyak ngersulo (mengeluh), melainkan harus selalu positif thinking (berpikir positif),” ajak Ismail.

Terkait dengan era New Normal pada masa Pandemi Covid-19, Bupati Lumajang Thoriqul Haq menyarankan untuk mengurai dulu problematikanya. Apakah itu terkait dengan new culture, new economic, new social maupun new schooling. Misalnya, agar pelaku usaha tidak terus mati karena pandemi corona tidak diketahui sampai kapan berakhir, akhirnya dibuat kebijakan baru. Seperti PKL, pasar dan mall diperbolehkan buka kembali. Masjid-masjid diperbolehkan menggelar ibadah, dan lain sebagainya.

“Tetapi, langkah bijak itu harus disertai dengan pembatasan atau pengetatan agar corona tidak terus berkembang. Seperti inilah bentuk New Normal. Jadi, harus ada pembatasan-pembatasan yang lebih keras karena ini memang pilihannya supaya rakyat tidak makin terpuruk dari sisi sosial ekonominya,” papar Bupati Lumajang.

Hal itu diamini Ismail Nachu, yang secara terus terang menyampaikan tentang ketidaksetujuannya dengan kebijakan pemerintah yang melarang masjid menggelar ibadah berjamaah. “Jangan masjidnya yang ditutup, tetapi orang beribadah ke masjid diperlakukan dengan pembatasan sesuai petunjuk dari para ahli yang mengerti,” tambahnya. (*)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )