Upacara Kebo Ketan VII Kembali Digelar, Ambil Moralitas Wedhatama Karya Mangkunegara IV

UPACARA Kebo Ketan VII akan diselenggarakan di Desa Sekaralas, Ngawi, Jawa Timur, pada 7-8 Oktober 2022, secara offline di dua tempat, yakni di Rumah Tua Sekaralas dan Lapangan Desa Sekaralas Ngawi. Tema yang diangkat adalah “Mangulah Ngelmu Bangkit” yang diambil dari Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV  (1853-1881).

Demikian siaran pers yang dikeluarkan Panitia Upacara Kebo Ketan VII yang disampaikan tim sutradara Muhammad Djibriel Ash Salsabiel dan Sugiyono. Lebih jauh ditulis, tema yang diambil sangat sesuai dengan suasana saat ini, di mana masa pandemi secara berangsur sudah mulai membaik. Terlepas dari itu semua, tema ini juga kita jadikan spirit dalam berbagai keadaan.

Pokok acara Upacara Kebo Ketan adalah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza, guyangan Sang Kebo Ketan, Bedaya Kebo Ketan, penyembelihan Sang Kebo Ketan, serta pembagian wajik dan jadah merah putih kepada masyarakat.

Upacara Kebo Ketan yang diinisiasi oleh Bramantyo Prijosusilo adalah sebentuk “Seni Kejadian Berdampak” (Impactful Happening Art) yang dibuat oleh LSM Kraton Ngiyom, fokus pada lingkungan hidup dan kebudayaan khususnya di Ngawi. Lembaga ini juga concern dalam memperbaiki serta merawat lingkungan di kawasan hutan dan sumber mata air Sendang Marga kawasan Alas Begal di Ngawi.

Dalam proses kreatifnya, Kraton Ngiyom telah melahirkan beberapa karya yang fenomenal. Musik Kronjal (Keroncong Jathilan) adalah sebentuk musik yang bercirikan seketika dapat dikenali sebagai musik Indonesia dan enak buat berjoged. Sedangkan Reyog Mahesa Nempuh, berbentuk seni prosesi berbasis Reyog yang berciri berbagai barongan kerbau, berbagai topeng, dan musik perkusi yang rampak dan kreatif. Saat ini tim kreatif sedang membuat komposisi perkusi dan gamelan baru untuk Seni Reyog Mahesa Nempuh.

Terkait pemeliharaan kawasan Sendang Marga, dilakukan oleh relawan Kraton Ngiyom dipimpin Sugiyono. Gagasan yang ditawarkan Kraton Ngiyom untuk penghutanan kembali wilayah yang menjadi kurban penjarahan saat reformasi sekaligus untuk perhutanan rakyat, yakni hutan buah, telah dipikirkan serius sebagai alternatif perhutanan produksi.

Perusakan hutan untuk diambil manfaat ekonominya berdampak buruk pada ekologi. Lain halnya dengan hutan buah, misalnya kelengkeng dan jambu air yang ditanam Kraton Ngiyom empat tahun lalu, kini sudah mulai berbuah. Buah dapat dipetik tanpa merusak fungsi ekologi pohonnya. Konsep hutan buah untuk rakyat yang diinisiasi Kraton Ngiyom itu menarik untuk dikembangkan.(Wahjudi Djaja)

SUMBER

 

CATEGORIES

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )