kompasberita | Langkat – Rumah Sakit Umum (RSU) Putri Bidadari Stabat konsisten menerapkan visi dan misinya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada keselamatan dan kesembuhan pasien, tanpa membedakan latar belakang maupun penjamin layanan kesehatan.
Pengalaman pribadi penulis selama menjalani perawatan intensif selama kurang lebih 11 hari menjadi bukti nyata komitmen tersebut.
Peristiwa ini bermula pada Minggu siang, 30 November 2025. Penulis, didampingi keluarga, mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Putri Bidadari untuk mendapatkan pertolongan medis akibat mengalami infeksi berat pada area genital yang telah menimbulkan nyeri hebat dan gangguan aktivitas sehari-hari.
Setibanya di IGD, tim medis yang bertugas dengan sigap melakukan penanganan awal (tindakan emergensi). Penulis segera mendapatkan terapi cairan intravena (infus), pemeriksaan tanda-tanda vital, serta asesmen klinis menyeluruh oleh dokter jaga.
Secara paralel, pihak keluarga melengkapi administrasi pendaftaran sebagai pasien peserta BPJS Kesehatan. Tanpa adanya diskriminasi layanan, penanganan medis tetap diberikan secara optimal. Beberapa jam kemudian, penulis dipindahkan ke ruang rawat inap untuk perawatan lanjutan.
Keesokan harinya, Senin, 1 Desember 2025, dokter spesialis yang menangani penulis melakukan serangkaian pemeriksaan penunjang, di antaranya pemeriksaan radiologi (rontgen) dan ultrasonografi (USG). Pemeriksaan ini bertujuan untuk menegakkan diagnosis secara akurat serta menentukan tingkat keparahan infeksi yang diderita.
Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan penunjang tersebut, tim dokter menyimpulkan bahwa diperlukan tindakan operatif sesegera mungkin guna mencegah komplikasi lebih lanjut.
Penulis kemudian dianjurkan untuk menjalani puasa praoperasi dan diminta persetujuan tindakan medis (informed consent) dari pihak keluarga.
Tepat pada Kamis, 4 Desember 2025, sekitar pukul 14.00 WIB, tindakan pembedahan dilaksanakan di ruang operasi RSU Putri Bidadari. Prosedur operasi berlangsung kurang lebih satu jam dan berjalan dengan lancar. Pascaoperasi, penulis terlebih dahulu dirawat di ruang pemulihan (recovery room) untuk observasi kondisi pascaanestesi sebelum akhirnya dipindahkan kembali ke ruang rawat inap sesuai dengan kelas kepesertaan BPJS, yakni kelas II.
Alami Sesak Napas Hebat, Kondisi Kritis Pascabedah
Namun, sekitar empat jam setelah kembali ke ruang rawat inap, kondisi penulis tiba-tiba menurun drastis. Penulis mengalami sesak napas berat (dispnea), keringat dingin, serta rasa nyeri dan tidak nyaman yang luar biasa, hingga terasa seperti berada dalam kondisi yang sangat kritis. Tim medis yang bertugas dengan cepat melakukan penanganan intensif, termasuk pemberian oksigen dan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kardiopulmoner.
Melihat kondisi yang memerlukan pemantauan ketat, dokter memutuskan untuk memindahkan penulis ke ruang Intensive Care Unit (ICU) guna mendapatkan perawatan intensif dan observasi selama 24 jam penuh. Selama tiga hari tiga malam berada di ICU, penulis mendapatkan pengawasan ketat dari dokter dan perawat, termasuk terapi medis lanjutan dan pemantauan parameter vital secara berkala.
Setelah kondisi klinis dinilai stabil dan mengalami perbaikan signifikan, dokter memutuskan untuk memindahkan penulis kembali ke ruang rawat inap dengan pengawasan khusus dari tim medis.
Memasuki hari ke-8 perawatan, penulis telah ditangani oleh sedikitnya lima dokter spesialis dari berbagai bidang keahlian. Rasa jenuh dan keinginan untuk segera pulang tentu muncul, namun demi keselamatan dan pemulihan yang optimal, dokter belum mengizinkan penulis untuk pulang.
“Kesehatan dan keselamatan pasien adalah prioritas utama kami. Pasien hanya boleh pulang apabila kondisinya benar-benar stabil dan layak secara medis,” ujar dr. Maas Lubis selaku Direktur RSU Putri Bidadari saat memberikan penjelasan langsung kepada penulis.
Pengalaman ini menjadi catatan penting dan berharga bagi penulis, bahwa dengan bermodalkan Kartu BPJS Kesehatan, masyarakat tetap dapat memperoleh pelayanan medis yang profesional, humanis, dan berkualitas. RSU Putri Bidadari Stabat telah membuktikan bahwa pelayanan kesehatan yang bermutu tidak harus selalu identik dengan biaya mahal, melainkan dengan komitmen, integritas, dan kepedulian terhadap keselamatan pasien.













